Sebuah Kisah
Senin, 03 Februari 2014
Minggu, 02 Februari 2014
Kenali lebih dekat
Penyakit Disleksia menyerang
kemampuan otak untuk menterjemahkan tulisan yang diterima oleh mata menjadi
bahasa yang bermakna, sehingga juga disebut ketidakmampuan membaca. Disleksia
dapat dialami oleh semua jenis umur, namun sering terjadi pada anak-anak karena
faktor keturunan.
Apabila mom dan dad mengidap
disleksia, maka ada kemungkinan anak mom mengalami Disleksia juga. Penyakit ini
sebenarnya tidak memerlukan obat-obatan, namun diperlukan terapi serta program
perawatan yang mampu mengurangi disleksia tersebut.
Dengan IQ antara 90 hingga 110 serta
kecerdasan rata-rata anak normal, anak mampu berbicara dengan normal hanya saja
mengalami kesulitan dalam membaca, mengeja, menulis dan menghitung karena anak
kerap melihat huruf terbolak balik seperti angka 21 dia baca 12. Atau tulisan
kaki menjadi kika.
Ketika anak harus menggabungkan
kemampuan visual dan auditori, anak kerap bingung dengan menginterpretasikan
simbol-simbol huruf dan kata. Mereka juga bingung membedakan kiri dan
kanan.Untuk membantu anak disleksia belajar, ada tiga model pembelajaran.
1. Metode Multisensori
Yaitu memaksimalkan kemampuan visual
(kemampuan penglihatan), auditori (kemampuan pendengaran), kinestetik
(kesadaran pada gerak), serta taktil (perabaan) pada anak.
2. Metode Fonik atau Bunyi
Memanfaatkan kemampuan auditori dan
visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya. Misalnya, huruf B
dibunyikan eb, huruf C dibunyikan dengan ec. Hal ini untuk mendukung cara berpikir
anak yang jika mengeja kata becak, maka terdiri dari b-c-a-k kurwng huruf e
3. Metode Linguistik
Mengajarkan anak mengenal kata
secara utuh. Cara ini menekankan pada kata-kata yang memiliki kemiripan.
Penekanan ini diharapkan dapat membuat anak mampu menyimpulkan sendiri pola
hubungan antara huruf dan bunyinya.
Selain itu, Mom juga dapat membantu
anak disleksia belajar dengan tips berikut:
• Gunakan pulpen atau pensil
berwarna agar tulisan lebih terlihat. Tandai dengan stabillo kata penting dalam
satu kalimat atau paragraf yang panjang
• Hindari penggunaan kalimat yang
terlalu panjang
• Jika ada buku teks yang memiliki
paragraf panjang, ringkaskan menjadi pokok bahasan dalam format “bullet” atau
urutan 123
• Padukan pembelajaran dengan video,
agar anak mengerti lebih baik
• Jika anak terlihat jenuh atau
pusing, berikan waktu untuk mereka beristirahat dengan menggambar atau
mendengarkan lagu atau berlari-lari bersama teman
• Anak disleksia suka eksplorasi.
Berikan satu topik yang anak sukai, lalu biarkan anak melakukan riset
sesuka hati mengenai topik tersebut
Langganan:
Postingan (Atom)